BIO-EKOLOGI RAYAP PERUSAK BANGUNAN
Rayap telah hadir di bumi sejak ratusan tahun yang lalu jauh sebelum kehadiran manusia , kelompok serangga ini mempunyai kemampuan adaptasi yang lebih baik dibanding serangga lainnya . Kemampuan ini karena rayap hidup dalam sebuah koloni yang mampu bertahan hidup lama . Anggota koloni rayap hidup dalam jumlah besar dan berspesialisasi menjadi tiga kasta : kasta pekerja , kasta prajurit , dan kasta reproduktif . Setiap kasta tersebut berbeda secara morfologi maupun fungsinya di dalam koloni . Kasta pekerja adalah anggota koloni yang berfungsi mencari makan , memperbesar sarang , memberi makan kasta lainnya ,dan melayani kebutuhan ratu . Kasta prajurit hanya berfungsi sebagai penjaga koloni dari musuh - musuh alaminya . Sementara kasta reproduktif berperan untuk memperbanyak anggota koloni .
Rayap juga merupakan satu-satunya kelompok serangga yang mampu memanfaatkan selulosa sebagai sumber makanannya . Selulosa dalam tubuh rayap dicerna dengan bantuan organisme simbion yang hidup di dalam saluran pencernaannya. Organisme inilah yang mengurai selulosa menjadi senyawa -senyawa sederhana yang mampu diserap oleh rayap .
Di dunia terdapat kurang lebih 2500 jenis rayap ,sementara di Indonesia ditemukan tidak kurang dari 200 jenis rayap . Habitatnya terbagi menjadi rayap-rayap hidup di dalam tanah ,didalam kayu kering ,dipohon-pohon ,atau di kayu-kayu lembab . Pada lingkungan perkotaan dua kelompok tayap yang penting adalah rayap tanah dan rayap kayu kering . Rayap tanah hidup bersarang di dalam tanah . Kelompok rayap ini di dunia dikenal sebagai kelompok SUBTERRANEAN TERMITES . Kehadiranya terutama dipengaruhi oleh suhu ,kelembaban tanah ,tipe tanah serta vegetasi . Beberapa jenis rayap tanah mampu beradaptasi pada lingkungan ciptaan manusia misalnya di dalam bangunan gedung dengan memanfaatkan suhu dan kelembaban yang terdapat didalam bangunan tersebut untuk mendapatkan sarang-sarang antara (secondary nest ) . Akibat kemampuannya tersebut bebrapa jenis rayap ini banyak berperan sebagai hama bangunan . Di Indonesia beberapa jenis rayap tanah yang paling berbahaya adalah dari kelompok genus COPTOTERMES sedangkan di negara-negara lain seperti di Amerika dari 45 jenis rayap hanya dua di antaranya berperan sebagai hama utama yaitu RETICULITERMES HESPERUS dan R FLAVIPES ditambah rayap migran ,yaitu C.FORMOSANUS .
Rayap tanah COPTOTERMES merupakan jenis yang paling sukses hidup di lingkungan perkotaan . Serangga ini dapat membentuk koloni dalam jumlah yang besar dan mawakili wilayah jelajah yang tinggi . Pendugaan jumlah individu dalam koloni dan wilayah jelajahnya dapat ditentukan dengan teknik penandaan dan penangkapan berulang . Para peneliti menduga dalam koloni COPTOTERMES FORMOSANUS yang besar diduga terdiri dari tujuh juta individu rayap dengan wilayah jelajah 3500m dan dalam koloni yang kecil berjumlah 1 juta individu dengan wilayah jelajah 1300m . Sementara itu dalam koloni COPTOTERMES CURVIGNATUS dapat dijumpai lebih dari satu juta individu dengan wilayah jelajah sekurang-kurangnya 450m . Berdasarkan hal tersebut tidak mengeherankan apabila dibandingkan dengan jenis rayap lainnya ,rayap COPTOTEMES lebih berbahaya menyerang bangunan gedung . Bahkan serangannya tidak terbatas pada tipe bangunan sederhana tetapi juga mampu menyerang objek-objek serangan yang tinggi pada bangunan-bangunan bertingkat jauh di atas permukaan tanah .
Rayap memiliki kemampuan bertahan hidup yang cukup tinggi . Hasil dari penelitian laboratorium menunjukkan bahwa rayap yang dibiarkan pada suhu 35 C dengan kelembaban relatif maksimum 4% dapat bertahan hidup 1- 30 hari .
PENGENDALIAN HAMA RAYAP PRA KONSTRUKSI
Perlakukan pra konstruksi ditujukan untuk mencegah masuknya rayap ke dalam bangunan gedung . Secara umum tindakan penanggulangan bahaya rayap pra konstruksi dapat dilakukan dengan pendekatan rancang bangunan -bangunan gedung taha rayap. Penggunaan kayu awet atau diawetkan melalui tindakan pengawetan kayu ,dan pemberian perlakukan tanah sebagai penghalang kimia (chemically treated soil barriers ). Pendekatan rancang bangun ditujukan untuk menciptakan kondisi bangunan gedung yang tidak disukai oleh rayap .Sementara itu perlakukan tanah pra konstruksi merupakan teknik pemberian perlindungan bangunan dengan penghalang kimia pada permukaan tanah yang diaplikasikan melalui penyemprotan termisida dengan tekanan rendah pada proses pembangunan konstruksi . Perlakukan tanah dilakukan dengan berbagai cara yang disesuaikan dengan tipe konstruksi bangunan gedung . Craa perlakukan kimia tanah diterapkan pada bangunan yang pondasinya tidak dilengkapi dengan sloof beton bertulang adalah sebagai berikut :
A. Perlakukan Pada Pondasi
- Setelah parit pondasi selesai digali , dasar parit disemprot larutan termisida dosis 5 liter larutan termisida per meter panjang pondasi
- Setelah pondasi selesai tersusun dan pengurukan mencapai setengahnya dilakukan penyemprotan tanah urugan ( back fill ) di kedua sisi pondasi . Jumlah larutan semprot pada masing-masing sisi 5 liter larutan termisida per panjang pondasi
- Setelah parit pondasi berikut balok pondasi diurug , pada kedua sisinya disemprotkan larutan termisida dengan dosis 5 liter meter
- Penyemprotan tanah yang akan ditutup lantai dilaksanakan secara merata dengan dosis 5 liter per meter persegi tanah permukaan
- Segera setelah selesai penyemprotan ,tanah harus dilindungi dari hujan atau paparan langsung sinar matahari .
- Tidak boleh mengurug kembali tanah yang telah diberi perlakuan , jika terpaksa diperlukan tanah urugan harus diberi perlakukan terlebih dahulu .
- Bagian pipa saluran instalasi dan draines yang masuk dan keluar bangunan yang ditanam di bawah tanah , harus diselubungi tanah anti rayap ,agar tidak dipergunakan sebagai jalan masuk rayap ke dalam bangunan dengan dosis 7,5 liter per meter persegi
- Tanah yang bersentuhan dengan bagian teras dan tangga masuk diberi perlakuan tanah dengan dosis 5 liter per meter persegi
PENANGGULANGAN BAHAYA RAYAP PASCA KONSTRUKSI
Pelaksanaan penanggulangan bahaya rayap pasca konstruksi hendaklah diawali dengan kegiatan
pemeriksaan serangan rayap untuk menentukan intensitas serangan yang terjadi , jenis rayap perusak bangunan ,dan volume pekerjaan yang akan dilakukan . Hasil pemeriksaan tersebut diperlukan untuk menentukan teknik penanggulangan bahaya rayap yang terbaik . Penanggulangan bahaya rayap pasca konstruksi dapat dilakukan dengan cara perlakuan tanah ,teknik pengumpanan , perlakuan kayu ,dan perbaikan elemen bangunan yang mengalami kerusakan .
A. Penanggulangan dengan cara perlakuan tanah pada bangunan
- Pengeboran pada lantai sepanjang kedua sisi dinding sejauh 0,15meter dari dinding dibor dengan jarak antar lubang 0,40meter .
- Pengeboran pada dinding diberikan apabila tanah yang seharusnya diberi perlakuan terdapat sumber air dan jaringan pipa saluran air kotor yang sulit diketahui serta pada dinding yang berhimpitan dengan bangunan lain
- Pengeboran pada retakan struktur ,semua retakan dan lubang serangga pada struktur atau pada bagian yang diduga merupakan jalan masuknya rayap di bor
- Pelaksanaan injeksi dengan injektor yang sesuai ukurannya ,larutan termisida diinjeksikan lewat lubang-lubang bor dengan tekanan sedang sampai volume yang ditentukan terpenuhi atau sampai larutan keluar dari lubangnya .
Pengumpanan merupakan teknologi pengendalian rayap yang populer saat ini . Teknologi ini sesungguhnya telah dikenal sejak lama . Metode pengumpanan pada prinsipnya menggunakan sifat biologis rayap yaitu sifat tropalakis dan grooming dalam mendistribusikan racun pada anggota koloninya . Oleh karena bahan aktif yang digunakan haruslah bersifat slow action sehingga menjamin tersebarnya racun kepada seluruh anggota koloni . Pelaksanaan pengumpanan pada bangunan gedung dilakukan dengan peralatan umpan rayap yang meliputi stasiun tempat umpan rayap ,umpan rayap untuk diluar ruangan dan umpan rayap untuk di dalam ruangan .
KESIMPULAN
- Rayap tanah merupakan kelompok organisme yang mampu beradaptasi dengan baik dengan kondisi lingkungan permukiman sehingga menempatkan serangga ini sebagai hama bangunan yang paling penting dan berbahaya bagi kelangsungan bangunan .
- Pengingkatan laju pembangunan lingkungan permukiman di kota-kota besar seperti di DKI Jakarta seringkali menimbulkan gangguan terhadap keseimbangan lingkungan termasuk merubah tata hubungan antara rayap sebagai serangga berguna dengan manusia sehingga menempatkan serangga tersebut menjadi hama .
- Berbagai kasus serangga rayap pada bangunan gedung di DKI Jakarta dan tingginya nilai kerugian yang ditimbulkan menunjukkan besarnya tingkat bahaya serangga rayap di daerah tersebut . Kondisi ini dipengaruhi oleh tingginya daya dukung lingkungan dan keragaman jenis yang dijumpai di wilayah DKI Jakarta
- Penanggulangan bahaya rayap hendaklah dilakukan sejak dini dengan pendekatan yang terpadu dan diaplikasikan oleh kalangan profesional yang memahami lingkup tugasnya ,sehingga akan memberikan jaminan terhadap kualitas pekerjaan ,dan yang tidak kalah pentingnya adalah jaminan keamanan serta keselamatan lingkungan .
#SAFEGUARD ASSETS PRESERVE THE ENVIRONMENT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar